Thursday, May 31

Raising Hope


Don’t give up hope of achieving our ambition. As long as we keep throwing a coin up into the air, we will remain eligible to make a wish.  The world will never fall apart just because _either side of the coin we have expected to land facing up ­_ turns upside down. You know why? It is because we still can execute Plan B, instead of Plan A.

However, the world will do fall apart if we stop tossing a coin, because once we have halted the action, we will have no options any longer, and it’s the end of our life. So, let us spark our positive energy throughout our soul and body, from then the whole universe will have such positive energy multiplied enormously and tremendously (trying to breathe spirit and energy into daily life).

Janganlah berhenti berharap untuk menggapai keinginan kita. Sepanjang kita masih melempar koin ke udara, maka selama itu pula kita masih diperkenankan untuk memohon. Dunia tidak akan runtuh hanya karena satu sisi koin yg kita kehendaki utk berada di atas tertelungkup ke bawah. Mengapa? Karena kalau Rencana A gagal, kita masih bisa mengeksekusi Rencana B.

Namun dunia akan benar-benar runtuh jika kita berhenti melempar koin ke udara, karena begitu berhenti melemparnya, maka kita tidak punya pilihan lagi, dan itulah akhir dari segalanya. Jadi marilah kita memancarkan energi positif kita ke seluruh jiwa dan raga supaya segenap jagad raya dan alam semesta melipatgandakan energi positif yg kita miliki jauh lebih besar dari sebelum-sebelumnya (mencoba mengobarkan api semangat dan energi dalam kehidupan sehari-hari).   

Wednesday, May 9

A Touching Story

A Touching Story:

Once upon a time, a kindergarten teacher asked her students to name their wish to God, and write it down on a piece of paper. On successfully collecting their work, the teacher brought the compositions home, and began to read them one by one.

Teardrops rolled down on her face as she was reading one of the compositions. “Why are you crying, honey?” asked her husband out of curiousity. “I asked my students to write down their wish to God on a piece of paper. Wait, why don’t you just read this by yourself?” asked his wife while passing on the paper she’s holding to her husband.

The paper read, “I don’t expect much from God. I just want to become a television so that my Mom and Dad will pay more attention to me, just like they do unfailingly to the television every time they return from work, no matter how tired they are.”

“What a poor child!” responded her husband. Who wrote this, honey?” Replied his wife hopelessly, “Errr, it’s from our own kid who joined my class.”



Kisah yang Sangat Menyentuh Hati:

Suatu ketika, seorang guru TK meminta murid2nya menyebutkan yg mereka inginkan dari Tuhan, lalu menuliskannya di atas secarik kertas. Setelah mengumpulkan tugas tsb, Sang Guru membawanya pulang, dan mulai membacanya satu per satu.

Air mata Sang Guru menetes ketika membaca salah satu karangan siswanya. “Koq kamu menangis, ada apa sayang?” tanya Sang Suami penasaran. “Aku tadi menyuruh siswaku utk menuliskan apa yg mereka inginkan dari Tuhan pada selembar kertas. Tunggu, kenapa nggak Mas baca sendiri aja ...,” pinta istrinya sambil mengulungkan kertas yg dia pegang kpd suaminya.

Bunyi kertas itu, “Tdk banyak yg aku tuntut dari Tuhan. Aku hanya ingin jadi televisi shg ayah dan ibuku lebih perhatian ke aku, sama seperti mereka tdk bosan-bosannya menonton TV setiap kali pulang dari kerja, sekalipun mereka penat.”

“Kasihan sekali anak tsb!” jawab Sang Suami. Emang siapa yg nulis, sayang?” Jawab istrinya lemah, “Uhm, itu dari anak kita yg gabung di kelasku.”